Yenny Wahid Soroti Kisruh PBNU, Singgung Izin Tambang Jadi Pemicu Perpecahan

Yenny Wahid Soroti Kisruh PBNU, Singgung Izin Tambang Jadi Pemicu Perpecahan

Iniloh.id – Putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, menyampaikan keprihatinannya terhadap dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang belakangan mencuat ke ruang publik.

Menurut Yenny, polemik di tubuh NU tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah yang memberikan izin pengelolaan tambang kepada organisasi keagamaan, termasuk PBNU. Ia menilai kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor yang memicu perbedaan pandangan dan ketegangan internal.

Pernyataan itu disampaikan Yenny saat memberikan sambutan dalam Haul ke-16 Gus Dur yang digelar di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Rabu (17/12/2025) malam.

Bacaan Lainnya

Yenny mengungkapkan, dirinya sempat berdiskusi dengan mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, terkait kontroversi pemberian izin tambang kepada ormas keagamaan.

Dalam perbincangan tersebut, Luhut disebut menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan itu. Menurut Yenny, Luhut menilai pengelolaan tambang merupakan sektor yang kompleks dan membutuhkan keahlian khusus, sehingga tidak tepat jika dibebankan kepada organisasi keagamaan.

Selain itu, Yenny juga menyinggung adanya dorongan dari salah satu menteri terkait kebijakan tersebut. Bahkan, berdasarkan informasi yang berkembang di kalangan jurnalis, izin tambang disebut diberikan kepada ormas yang memiliki kedekatan atau afiliasi politik tertentu.

Ia menegaskan, pengelolaan sumber daya alam seharusnya tetap menjadi tanggung jawab negara. Yenny pun menyatakan sependapat dengan mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj yang menyarankan agar NU tidak terlibat langsung dalam bisnis pertambangan.

Sebagai alternatif, Yenny mengusulkan agar pemerintah menyalurkan dukungan kepada ormas keagamaan dalam bentuk bantuan dana sosial dan pendidikan, seperti pembangunan sekolah, pesantren, hingga rumah sakit.

Menurutnya, skema tersebut jauh lebih bermanfaat dan minim risiko konflik maupun mudarat bagi organisasi keagamaan.

Di akhir sambutannya, Yenny mengajak seluruh warga NU untuk kembali merajut persatuan dan menjaga marwah organisasi sesuai dengan nilai-nilai yang diwariskan para pendiri NU, khususnya KH Hasyim Asy’ari.

“Mari kita selamatkan organisasi ini. NU adalah rumah besar bagi umat Islam Indonesia, bahkan dunia,” tutup Yenny.

Pos terkait