Iniloh.id – Musyawarah Besar Warga Nahdlatul Ulama (NU) 2025 digelar sebagai respons atas dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang dinilai telah menyita energi organisasi dan menjauhkan NU dari khitmah utamanya bagi umat dan bangsa.
Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Inayah Wahid, menegaskan forum ini tidak dimaksudkan untuk mendukung atau menjatuhkan kelompok tertentu.
Musyawarah justru diarahkan sebagai ruang refleksi bersama agar NU kembali fokus pada peran keagamaannya yang meneduhkan.
“Forum ini tidak berpihak ke mana pun. Tujuannya adalah mengembalikan NU ke jalur khitmahnya, menjaga marwah organisasi, dan merawat kebersamaan warga NU,” ujar Inayah dalam keterangan yang disampaikan kepada peserta musyawarah.
Dari hasil pembahasan, Musyawarah Besar Warga NU 2025 menghasilkan sembilan rekomendasi penting.
Salah satu poin utama adalah dukungan penuh kepada para masyayikh dan sesepuh NU untuk mengambil peran aktif memulihkan suasana organisasi agar kembali sejuk dan bermartabat.
Forum ini juga merekomendasikan percepatan penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU atau Muktamar Luar Biasa (MLB) sebagai jalan keluar konstitusional atas polemik yang berkembang.
Selain itu, para muktamirin diimbau untuk tidak memilih figur yang terlibat konflik internal maupun memiliki konflik kepentingan.
Rekomendasi lainnya menekankan pentingnya kepemimpinan PBNU yang bersih dari praktik politik uang serta bebas dari intervensi kekuatan eksternal.
Independensi NU dinilai sebagai syarat utama agar organisasi tetap berdaulat dalam menentukan arah perjuangannya.
Dalam isu strategis nasional, Musyawarah Besar Warga NU secara tegas menolak keterlibatan NU dalam konsesi pertambangan.
Penolakan ini didasari keinginan menjaga marwah organisasi sekaligus kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan hidup.
Forum juga mendorong penetapan bencana ekologi nasional di wilayah Sumatera, seiring meningkatnya kerusakan lingkungan yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
Selain itu, NU didorong untuk terus berpihak kepada kelompok mustad’afin, memperkuat advokasi hak asasi manusia, serta aktif mengawal keadilan sosial di berbagai sektor kehidupan.
Menutup rekomendasinya, musyawarah mengajak seluruh warga NU, dari tingkat pusat hingga akar rumput, untuk menjaga ukhuwah dan tidak terjebak dalam ketegangan elit.
Persatuan internal dinilai sebagai kunci agar NU tetap kokoh dan berkelanjutan dalam menjalankan khitmah bagi umat dan bangsa.






