Tegas! Joe Biden Sebut Donald Trump Membahayakan Demokrasi Amerika Serikat

 

Presiden Amerika Serikat Joe Biden
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden (Foto: The New York Times)


BATAVIA TIMES – Presiden Amerika Serikat, Joe Biden bersama dengan anggota parlemen berkumpul di Capitol dalam rangka memperingati tragedi serangan 6 Januari yang dilakukan masa pro-Trump pada beberapa waktu silam.

Bacaan Lainnya

Presiden Joe Biden dalam kesempatan pidatonya mengecam keras eks presiden Amerika Serikat ke-45, Donald Trump karena mencoba menafikan fakta atau melakukan upaya pembohongan publik yang dinilai dapat mengancam demokrasi di negeri paman sam tersebut. 

Joe Biden dalam kritiknya yang pedas kepada mantan presiden AS Donald Trump menyatakan, bahwa Donald  Trump dan pendukungnya sedang membunuh demokrasi Amerika Serikat secara perlahan.

“Trump dan sekutunya memegang “belati di tenggorokan Amerika” dan berusaha untuk merusak legitimasi sistem pemilihan,” kata Presiden Amerika Serikat Joe Biden saat berpidato di Aula Patung AS Capitol seperti dikutip The New York Times pada, Kamis (6/1/2022).

Bahkan dengan tegas Joe Biden dalam  pidatonya itu menyebut, tindakan Donald Trump tidak ada bedanya dengan tindakan otokrat dan diktator di beberapa negara-negara.

Pidato Joe Biden ini pun juga akhirnya menuai banyak respon masyarakat AS. Dengan tegas Bidan memulai peringatan sepanjang hari yang menggarisbawahi betapa retaknya AS setahun setelah Trump menolak untuk menerima kekalahan telak di kotak suara pada pemilu Amerika Serikat tahun lalu.

Dengan tidak ada satu pun senator Republik di ruang Senat, Demokrat akhirnya harus turun lansung untuk menyampaikan pidato yang menyerang Trump dan terus mengkiritknya soal tragedi kekerasan di Gedung Capitol pada 6 Januari 2021.

“Kebohongan besar Donald Trump yang merendam lanskap politik kita dalam minyak tanah. Itu adalah reli Donald Trump di Mall yang mengejutkan pertandingan. Dan kemudian datanglah api,” kata Chuck Schumer, pemimpin mayoritas Senat. 

Meskipun begitu, hampir setahun setelah Donald Trump meninggalkan jabatannya, cengkeraman Donald Trump pada kekuasaan di Partai Republik masih tak tertandingi.

Hal ini menunjukkan bahwa mantan presiden Amerika Serikat ke-45 itu dapat bertahan lebih lama dari hampir semua siklus kemarahan, tidak peduli seberapa intens itu membakar.

Pos terkait