JCCNetwork.id- Pejabat dari Amerika Serikat (AS), Israel, dan Mesir menyelesaikan pertemuan di Kairo pada Minggu, 2 Juni 2024. Mesir tetap teguh pada pendiriannya bahwa Israel harus mundur dari penyeberangan Rafah di sisi Palestina agar dapat kembali beroperasi.
Israel menguasai perbatasan di sisi Gaza pada Mei dalam serangannya di kota Rafah di sepanjang tepi selatan wilayah tersebut. Tindakan ini membuat Mesir marah karena mereka menyatakan akan berhenti bekerja sama dengan Israel di jalur penting tersebut untuk bantuan dan evakuasi dari Gaza.
Seorang sumber keamanan Mesir mengatakan, “Pertemuan hari Minggu berlangsung positif meskipun belum ada kesepakatan mengenai pembukaan kembali penyeberangan.”
Delegasi Mesir, seperti dilansir dari Channel News Asia, Senin, 3 Juni 2024, menyatakan bahwa mereka terbuka untuk pemantau Eropa di perbatasan untuk mengawasi operasi yang dilakukan oleh otoritas Palestina, jika otoritas Palestina setuju untuk melanjutkan pekerjaan.
Pejabat Israel dan AS mengatakan mereka akan bekerja cepat untuk menghilangkan hambatan dalam pengoperasian penyeberangan tersebut, menurut sumber-sumber Mesir.
Ketegangan meningkat antara Mesir dan Israel terkait pengambilalihan perbatasan selatan, yang menurut Israel telah selesai pada Rabu kemarin.
Meskipun Mesir memfasilitasi masuknya bantuan melalui penyeberangan Kerem Shalom pekan lalu, pembukaan kembali Rafah sangat penting karena lembaga-lembaga kemanusiaan memperingatkan akan terjadinya kelaparan di Gaza.






