![]() |
| Foto : Direktur Eksekutif Etos Indonesia Institute, Iskandarsyah |
Bekasi – Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah memberikan pendapatnya terkait isu konvensi Partai Golkar yang dinilai layak untuk menentukan siapa yang layak didorong di Pilpres 2024 mendatang.
Hal ini kata Iskandarsyah mengacu pada peristiwa yang lalu, yang pernah dilakukan Partai Golkar saat Wiranto maju dari partai Golkar lewat konvensi Partai Golkar di Pilpres 2004 lalu.
“Untuk itu mekanisme yang harus tepat, jangan sampai partai sebesar seperti Golkar mendorong orang yang tidak mempunyai elektabilitas yang cukup serta cakap guna disodorkan di perhelatan Pilpres 2024 nantinya” kata Direktur Eksekutif Etos Indonesia Institute, Iskandarsyah, di kantor Stos Indonesia Institute, Jalan Jatirangga, Bekasi Jawa Barat, Sabtu, (27/03/2021)
Selain itu, lanjut dia, peristiwa 2019 lalu sudah menjadi pelajaran berarti untuk partai Golkar dimana kursinya menyusut di parlemen. Pada 2024 yang akan datang para petarung baru yang mengisi pertarungan menuju RI 1. Ia meyakini Partai Golkar akan lebih selektif dalam menentukan calonnya yang akan didorong nantinya.
Ketika ditanya, apakah Ketum partai Golkar sendiri layak kah untuk didorong menjadi RI 1?, Iskandar menjawab, jangan sampai hara kiri untuk partai Golkar, karena begitu maju Pemilihan Presiden pada 2024 mendatang maka masyarakat akan melihat personalnya bukan perkara partainya saja. “Selama ini bagaimana dengan Ketua Umum Partai Golkar, jangan karena uang terus dipaksakan maju”Sambungnya
Menurut pengamat politik akrabnya disapa mas is ini menuturkan Ketua MPR, Bambang Soesatyo (Bamsoet) merupakan sosok atau figur yang tepat untuk pergelatan demokrasi politik nasional tahun 2024 nantinya.
“Siapa yang layak didorong dari partai Golkar?, Kalau perlu jawaban jujur saya ya mas Bamsoet, silahkan kawan-kawan buat poling saja ke masyarakat, mana yang populer, saya tak perlu panjang lebar memaparkannya”paparnya
Lebih jauh ia memaparkan bahwa mekanisme konvensi harus bisa dilakukan apabila memang dilakukan tanpa praktik-praktik uang karena memaksakan kehendak. Namun demikian juga harus lebih mengacu kepada keinginan masyarakat, prestasi-prestasi kandidat, integritas, loyalitas terhadap partai, mantan anak siapapun bukan suatu ukuran untuk memenangkan ini.
“Saya bicara yang realistis, yang mudah dicerna masyarakat dan yang terpenting hasil survey saya menunjukkan ke salah satu tokoh partai itu” tegas Iskandarsyah menutup wawancaranya






