| Direktur LBH FBR, Amsori |
BATAVIA TIMES – Direktur Lembaga Bantuan Hukum Forum Betawi Rempug (LBH FBR), Amsori dan Wakil Ketua LPBH PB NU diselah kesibukannya sebagai tokoh muda mengajak masyarakat untuk bersikap bijak dan cerdas dalam bermedia sosial.
Menurutnya, era digital ini segala sesuatu bergerak dengan cepat, instan dan tidak terbatas, informasi dapat diperoleh dimana saja dan dari siapa saja. Karenanya, generasi muda masa kini dituntut untuk berusaha dan mampu menjadi bijak terutama dalam penggunaan media sosial.
“Kita bisa berguna dan bertambah pintar apabila menggunakan medsos dengan benar, dan juga sebaliknya menjadi bodoh apabila kita menggunakan medsos dengan tidak benar, hidup di zaman now (zaman millenial) dikenal bukan hanya istilah “mulutmu harimaumu”, tapi juga ada ungkapan “jarimu harimaumu,” kata Amsori kepada awak media, Jumat (28/01/2022).
“Mengapa demikian? Itu adalah sebuah peringatan agar berhati-hati dan lebih bijak dalam menggunakan medsos. Kebebasan berpendapat di medsos jangan sampai menjadi petaka atau menyebabkan masalah hukum,” tambahnya
Pasalnya, masyarakat mempunyai peranan penting dan strategis dalam menangkal sekaligus menetralisir para oknum yang menyebar berita bohong alias hoaks yang mengarah kepada gerakan radikalisme, intoleransi dan teroris yang tumbuh di masyarakat dengan cara memperkuat wawasan kebangsaan.
Bagi dia, karakteristik oknum perorangan maupun kelompok yang berpaham radikal umumnya dilukiskan sebagai paham yang intoleran, fanatik berlebihan, mengklaim diri atau kelompoknya paling benar, memiliki stigma buruk terhadap modernisasi, cenderung anarkis dalam memperjuangkan ideologinya, terkesan rigid dan tekstual dalam menafsirkan ayat-ayat suci.
“Kami juga menyampaikan dan mengajak seluruh masyarakat Indonesia mari kita mendukung Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan TNI dalam menjalankan proses penegakkan hukum di negeri Indonesia ini dari bahaya para Oknum yang menyebar Hoaks, paham Radikalisme, Terorisme dan Intoleransi demi merawat persatuan dan kesatuan bangsa,” harapnya
Pun diakhir keterangannya, ia menjelaskan bahwa, penerapan nilai-nilai dan prinsip Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-undang merupakan roh keindonesian yang sangat perlu didorong pula dengan nilai-nilai kebudayaan serta nasionalisme yang kuat. Hal itu, lanjut dia agar Indonesia tidak mudah di pora-porandakan oleh berita bohong atau hoax dari siapapun dan dari manapun.
“Demokrasi itu harus berasaskan nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-undang, sehingga demokrasi di Indonesia punya roh keindonesiaan yang sejati yang ditopang oleh nilai-nilai budaya, adat istiadat dan rasa nasionalisme yang kuat,” tutup Amsori






