Iniloh.id – Polemik baru mencuat di tubuh TNI setelah Pelda Chrestian Namo, ayah dari almarhum Prada Lucky, dikabarkan tengah diperiksa oleh kesatuannya sendiri. Ironinya, sang ayah justru diperiksa usai bersuara lantang menuntut keadilan atas kematian anaknya.
Informasi ini dibenarkan oleh Komandan Korem 161/Wira Sakti, Brigjen Hendro Cahyono, yang menyebut bahwa pemeriksaan terhadap Pelda Chrestian dilakukan karena dugaan pelanggaran disiplin prajurit.
“Prosesnya sedang berjalan sesuai aturan militer,” kata Hendro saat dikonfirmasi, Rabu (29/10).
Namun, di tengah proses hukum yang sedang berlangsung, publik mulai mempertanyakan: apakah ini bentuk penegakan disiplin, atau justru upaya membungkam suara orang tua yang berduka?
Keadilan yang Diperjuangkan, Kini Dipertanyakan
Kasus kematian Prada Lucky, prajurit muda yang tewas secara misterius beberapa bulan lalu, masih bergulir di Pengadilan Militer Kupang. Sejumlah saksi telah dihadirkan, namun keluarga mengaku mulai kehilangan kepercayaan terhadap transparansi proses hukum.
Dalam wawancara di salah satu stasiun televisi, Pelda Chrestian mengaku kecewa karena tak pernah mendapat informasi resmi mengenai perkembangan penyelidikan.
“Saya tidak lagi percaya pada pengadilan militer. Saya bahkan tidak diberi tahu apa pun soal kasus anak saya,” ujarnya dengan nada kecewa.
Publik Menanti Jawaban: Siapa yang Sebenarnya Diadili?
Kasus ini pun memicu gelombang simpati dan kritik di media sosial. Banyak warganet menilai langkah pemeriksaan terhadap Pelda Chrestian sebagai bentuk ketidakpekaan institusi terhadap duka seorang ayah yang tengah berjuang mencari kebenaran.
Kini publik menanti, apakah TNI akan menegakkan keadilan dengan transparan, atau justru menambah luka dengan mengadili mereka yang berani bersuara.
“Yang berjuang untuk keadilan jangan sampai justru ikut dikorbankan,” tulis salah satu pengguna X (Twitter).
Kisah ini menjadi pengingat bahwa perjuangan menuntut keadilan di negeri ini kerap penuh risiko, bahkan bagi mereka yang seharusnya dilindungi oleh sistem hukum itu sendiri.






